• Breaking News

    Cara Menghasilkan Uang Dari Internet|Cara Mendapatkan Uang Dari Internet|Cara Cari Uang di Internet|Cara Mendapatkan Uang dari Facebook|Cara Mendapatkan Uang Dengan Cepat|Peluang Usaha Sampingan|Peluang Usaha Rumahan|Butuh Uang Cepat|cara mendapatkan uang dengan mudah

    18 February 2015

    Wawancara Dengan Adhicipta R. Wirawan Mengenai Perjalanan Industri Kreatif Digital

    Adhicipta R. Wirawan masih mengajar sebagai seorang dosen akuntansi di sebuah universitas swasta yang cukup terkenal di Surabaya. Namun begitu jas dilepas, dia adalah seorang penggiat industri kreatif digital di Indonesia. Melalui Mechanimotion Studio, Adhicipta menegaskan bahwa peluang industri kreatif digital di Indonesia sangat besar jika tahu cara memanfaatkannya.

    Berikut petikan wawancara studentpreuner dengan Adhicipta

    Halo mas Adhi. Bagaimana ceritanya seorang dosen akuntansi bisa terjun di industri game?
    Sejak SMA, saya suka menggambar. Namun begitu lulus, orang tua meminta saya untuk melanjutkan di jurusan akuntansi saja karena kala itu, mereka melihat tingginya kesempatan kerja untuk profesi akuntan di masyarakat. Jadi, saya ambil kuliah S1 dan S2 di jurusan akuntansi, hingga sekarang jadi dosen.

    Lalu bagaimana Anda bisa terjun ke dunia game?
    Pada tahun 2012, saya mendirikan Mechanimotion sebagai sebuah badan usaha. Di bawahnya ada Animotion Academy sebagai divisi edukasi untuk mencetak SDM di industri kreatif digital, kemudian baru akhir 2013, Mechanimotion menambahkan satu lagi sub divisi, yaitu Dolanan Games.

    Semua ini dilakukan sambil tetap jadi dosen akuntansi?
    Saya masih mengajar akuntansi. Memang tidak mudah. Namun apabila kita punya passion dan kemauan, saya yakin siapapun dan apapun profesinya pasti bisa. Lagipula, semuanya bisa dikontrol dengan smartphone lawas saya ini.

    Apakah kedua profesi yang berbeda ini bisa saling mendukung atau justru jalan sendiri-sendiri?
    Saling mendukung. Terutama ketika kita harus presentasi di depan calon investor. Saya bisa ngobrol dengan bahasa mereka, seperti proyeksi laba rugi, profit margin, dan lain sebagainya.


    Jadi, ke mana passion Anda di industri kreatif digital telah mengantarkan Anda?

    Tahun 2013, kita pernah memenangkan INAICTA dari kemkominfo dan INCREFEST dari kemenperin. Saat ini, kami sedang fokus di industri game. Salah satu judul game kami, Djamal, meraih juara 2 dalam Anti Corruption Festival oleh KPK. Pada 17 Agustus kemarin, Garuda Nest Rescue difitur di halaman depan Google Play Indonesia sebagai game karya anak bangsa.

    Sebagai pelaku industri kreatif digital, bagaimana menurut Anda tentang potensi industri ini di Indonesia?
    Indonesia masih kecil dari segi jumlah paten. Tantangan kita sebagai pelaku industri kreatif digital adalah bagaimana investor melihat investasi saat ini dan masa depan itu tidak harus berbentuk konvensional seperti rumah atau apartemen saja, tapi peluang di dunia digital dan intelectual property itu juga besar.

    Bagaimana caranya membuat investor tertarik?
    Kolaborasi. Di Jepang ada budaya Seisaku Iinkai di mana kelompok-kelompok pelaku usaha berkolaborasi membentuk sebuah unit kerjasama operasi. 

    Saya berkesempatan mengunjungi kantor pusat Pokemon di Roppongi. Dari sini saya dapat bahwa Pokemon adalah kolaborasi antara Nintendo, Gamefreak, TV Tokyo dan beberapa perusahaan lain. Terpengaruh dari sejak jaman feudal, di sana sudah ada klan-klan. Kelompok-kelompok inilah yang menjadi penggerak ekonomi Jepang. Indonesia harusnya juga bisa. Karena budaya di Asia Timur setidaknya hampir mirip-mirip. 

    Perlu diketahui, pendapatan industri animasi di Jepang tahun 2012 sekitar Rp 161 triliun atau setara dengan 377 pesawat tempur sukhoi atau 33 Jembatan Suramadu. Kalau di Indonesia sudah ada banyak intelectual property yang mampu bersinergi dan ada satu target yang jelas, maka saya yakin Indonesia pun bisa mencapai angka ini.


    Jadi, apa upaya yang telah Anda lakukan untuk mengubahnya?

    Sejak tahun 2010, kami menggagagas The Adventure of Wanara. Seiring berjalannya waktu, Wanara berhasil tembus mendapat bantuan pendanaan dan inkubasi dari PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melalui program Indigo Fellowship. 

    Pada waktu itu, salah satu challenge yang diberikan oleh Telkom adalah building team. Dengan tekanan deadline, kita berhasil mengumpulkan orang-orang hebat yang mau bekerjasama. Wanara digarap oleh tim kolaboratif yang terdiri dari 60 orang.

    Anda juga membentuk sebuah perkumpulan animator sendiri ya mas?
    Studio animasi di Indonesia banyak. Tapi kerjanya masih sporadis, bahkan seringkali persaingannya negatif. Di Amerika Serikat, ada studio besar yang meski saling bersaing, mereka juga saling bekerjasama, yaitu Pixar dan Dreamworks. 

    Maka di perkumpulan ini, kami ingin mengajak animator-animator di Indonesia agar tidak hanya bersaing saja, namun juga berkolaborasi. Misalnya jika satu studio menghasilkan sebuah karya, studio lain bisa memberi kritik dan saran. Semakin banyak kualitas animasi yang bagus di Indonesia, semakin banyak investor yang tertarik ke industri kita. Bikin 5 produk dengan kerjasama 5 orang jauh lebih baik daripada bikin sendiri tapi cuma menghasilkan 1 produk setahun.

    Sebesar apa kesempatan kerja bagi pelaku industri kreatif digital di Indonesia?
    Relatif besar, tergantung kita sebagai pelaku yang lebih dulu terjun ke industri ini. Kita harus sadar bahwa kita punya tanggung jawab untuk membukakan jalan bagi generasi-generasi berikutnya.


    Misalnya saja di Surabaya. Ada banyak sekali SMK–SMK yang membuka jurusan animasi dan multimedia. Siswa-siswa yang mengambil jurusan itu, berarti menggantungkan masa depan mereka pada kita. 

    Semakin subur industri ini di Indonesia, maka semakin banyak lulusan yang akan diserap di dunia kerja. Inilah beban yang harus ditanggung industri kreatif digital di Indonesia.

    Jadi, tips apa yang bisa Anda berikan untuk pembaca kami yang ingin terjun ke industri kreatif digital?
    Mungkin bukan cuma industri kreatif digital, namun juga di industri manapun. Dalam bisnis, kita harus segera bertindak. Proses belajar terbaik adalah dengan bertindak. 

    Karena, secara otomatis usia kita akan terus bertambah. Semakin cepat kita bertindak, semakin baik. Dalam proses itu, Anda harus punya growth yang terukur. 

    Misalnya kalau bikin apps ya berarti jumlah download, kalau bikin intelectual property berarti jumlah fanbase, dan seterusnya. Dan jangan lupa untuk berkolaborasi. Berkomunitaslah. Temui orang-orang yang sudah terjun lebih dulu ke industri Anda. 

    Anda akan belajar banyak dari mereka. Terakhir, bisnis itu harus kembali ke passion. Saya mengawalinya dari hobi. Bagi saya, passion adalah modal awal yang tidak akan pernah padam. Selama Anda yakin dengan passion Anda, maka Anda pasti akan berhasil.

    Tulisan ini saya kutip dari detik.com, semoga bisa menginspirasi Anda dan selamat belajar bisnis.

    No comments:

    Fashion

    Beauty

    Travel